DIRIKU HILANG ….!
Ah ………
Hilang kemana diriku?
Kucari diriku di pabrik,
Yang kutemukan hanya sebuah sekrup diantara banyak sekrup dan baut dari sebuah mesin pencetak keuntungan.
Kucari diriku di Mal,
Yang kutemukan konsumen gila,
Yang kebutuhannya muncul karena barang pajangan,
Juga karena pejengan yang ‘bening-bening’
Kucari diriku di tempat tongkrongan,
Yang kutemukan adalah seorang teman, yang asyik dengan ngakak bareng
Dan belum pernah diuji apakah mau sakit bareng.
Kucari diriku di rumah bordil,
Yang kutemukan hidung belang, yang ngos-ngosan berhasrat ingin menyantap hidangan lezat.
Kucari diriku di rumah,
Yang kutemukan adalah suami, seorang pria yang hidup bersama dengan wanita yang baru dikenalnya beberapa tahun lalu.
Yang kutemukan adalah bapak, seorang laki-laki yang ditunggangi anak-anaknya.
Ah……….
Belum juga kutemukan diriku!
Kucari diriku di masjid,
Yang kutemukan adalah orang Islam, orang yang bergerak (sholat) mengikuti seperangkat aturan-aturan tertentu.
Kucari diriku di majlis Aagym,
Yang kutemukan adalah fans dan pencari adab baik.
Kucari diriku di majlis zikirnya Arifin Ilham,
Yang kutemukan penikmat zikir.
Kucari diriku di majlis ilmu,
Yang kutemukan pengagum konsep-konsep.
Ah……..
Dimana bisa kutemukan diriku?
Ku terus mencari,
Kulalui lorong-lorong Jakarta di tengah malam,
Kulihat gembel-gembel berserak di emperan toko,
Ada seorang ibu dengan dua anaknya yang kecil dalam dekapannya sedang tertidur pulas,
Tanpa alas tidur, tanpa selimut, dan tanpa atap dan dinding yang dapat melindungi dari dinginnya malam! Oh…… tragis sekali.
Di situlah kutemukan seorang laki-laki melankolis yang perih hatinya melihat derita sesama.
Tapi ………..
belum kutemukan juga diriku.
Ku duduk termenung diatas sebuah batu, di lereng sebuah gunung,
Letih diriku kesana-kemari,
Tapi belum kutemukan juga diriku yang hilang.
Tiba-tiba aku tersentak,
Kudengar suara rintihan dan tangisan tersedu-sedu,
Sesekali kudengar suara ‘gedebuk’ disusul jeritan ‘Aduuuh Ampuuuun!’
Akhirnya muncul juga dari balik batu besar,
Ternyata seorang kakek renta sedang memikul sekarung beban yang berat,
Melengkung punggungnya karena beban yang dipikulnya,
Berjalan tertatih-tatih dengan kaki yang gemetar,
Tak putus tangis dan rintihannya.
Kusapa sang kakek,
“Berhentilah sebentar untuk beristirahat, nanti akan saya Bantu untuk mengangkat beban kakek!”
sang kakek menjawab,
“saya takut waktu tak cukup untuk sampai ketujuan jika beristirahat, dan beban ini tidak ada yang bisa memikulnya selain saya sendiri”.
Rasa ingin tahuku muncul, serta merta kususul dengan pertanyaan-pertanyaan,
“memangnya kakek mau kemana?”
“mau ke puncak gunung” jawabnya singkat.
“Lho! Apa yang mendorong kakek mau ke puncak gunung?” tanyaku keheranan.
“kesedihan dan hasrat saya” jawabnya sambil tersedu.
“kesedihan atas apa dan hasrat akan apa ?” tanyaku penasaran
Sang kakek menengadahkan kepala dan menatap puncak gunung, sambil berlinang air mata dia menjawab “kekasih saya ada di puncak gunung dan sedang menunggu saya datang. saya sedih karena terpisah jauh dengannya dan saya berhasrat ingin menatap wajahnya.”
Aku terdiam dan berusaha merasakan perasaan sang kakek.
“karung berisi beban apa yang kakek bawa, yang orang lain tidak bisa Bantu membawakan?” tanyaku menyelidik.
“Saya harus membawa beban ini, kerena kekasihku pasti akan menanyaiku tentang beban berat dan banyak ini, yaitu beban saya sebagai manusia, beban saya sebagai orang yang beragama, beban saya sebagai seorang anak, beban saya sebagai adik, beban saya sebagai kakak, beban saya sebagai suami, beban saya sebagai bapak, beban saya sebagai tetangga, beban saya sebagai teman, beban saya sebagai pekerja, beban saya sebagai pemilik harta dan….baaanyak lagi, hingga ada saja yang terlupakan” jawab kakek dengan sedikit ekspresi keletihan di wajahnya.
“bagaimana kakek sampai ke puncak gunung dengan keadaan seperti ini ?” tanyaku lagi.
“Jika saya melihat keadaan saya, rasanya saya takkan mungkin sampai ke puncak gunung, saya putus asa dan untuk apa lagi saya meneruskan perjalanan?” jawabnya dengan murung. kemudian sang kakek meneruskan jawaban dengan wajah semringah “tapi saya akan tetap berjalan dengan keadaan seperti apapun, karena harapan saya hanya pada kekasihku, saya berharap dia melihatku jatuh-bangun, mendengar jeritan perihku dan tangisan deritaku hingga dia kasihan padaku, dan saya berharap dia akan turun dan menolongku!”
Aku terdiam dan termenung mendengar jawaban sang kakek.
Tiba-tiba aku tersentak dan sadar bahwa sang kakek sudah meneruskan perjalanannya.
“jangan-jangan dia (sang kakek) adalah diriku ???”gumamku.